Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia telah memicu lonjakan masalah kesehatan serius. Berdasarkan data terbaru hingga 27 Agustus 2026, tercatat sebanyak 13.449 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang dialami masyarakat akibat paparan asap.
Menanggapi kondisi tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia mengambil langkah cepat dengan mengerahkan ratusan tenaga kesehatan ke daerah-daerah terdampak. Upaya ini dilakukan untuk memastikan masyarakat mendapatkan akses pengobatan yang memadai serta meminimalkan risiko kesehatan yang lebih buruk akibat kualitas udara yang memburuk.
Saksono Harbuwono menekankan pentingnya kesiapsiagaan layanan kesehatan di tengah ancaman kabut asap. Menurutnya, paparan partikulat dari kebakaran hutan memiliki risiko kesehatan yang nyata bagi masyarakat luas.
"Karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, terutama akibat paparan asap dan partikulat. Karena itu, kita perlu memastikan masyarakat terlindungi dan pelayanan kesehatan tetap siap," ujar Dante, dikutip Sabtu (29/8/2026).
Pengerahan tenaga medis ini merupakan bagian dari strategi nasional dalam menangani dampak bencana lingkungan. Kemenkes terus memantau perkembangan situasi di lapangan dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan distribusi logistik kesehatan, seperti masker dan obat-obatan, tersedia bagi warga yang membutuhkan.
Hingga saat ini, pihak berwenang terus berupaya melakukan pemadaman titik api di berbagai lokasi. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mengurangi aktivitas di luar ruangan jika kualitas udara di wilayah mereka berada dalam kategori tidak sehat akibat dampak karhutla.