
Kondisi udara di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, dalam beberapa waktu terakhir masih diselimuti oleh kabut asap pekat akibat maraknya kebakaran hutan dan lahan. Situasi ini memicu kekhawatiran dari berbagai pihak mengenai ancaman kesehatan yang mengintai warga, terutama bagi mereka yang tetap memaksakan diri untuk beraktivitas fisik di area terbuka seperti di Taman Kota Sampit pada pagi dan sore hari.
Meskipun kualitas udara terpantau berada dalam kategori yang kurang ideal, sejumlah masyarakat tampak masih menjalankan rutinitas olahraga harian seperti lari pagi, jalan kaki, bersepeda, hingga bermain sepak bola tanpa mengenakan masker pelindung. Fenomena tersebut mendorong Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kotawaringin Timur mengambil sikap tegas untuk mengingatkan kembali pentingnya keselamatan diri di tengah paparan polusi udara hasil pembakaran lahan.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kotawaringin Timur, Muhammad Irfansyah, menegaskan bahwa niat awal masyarakat untuk menjaga kebugaran tubuh melalui olahraga justru bisa berbalik menjadi bumerang bagi kesehatan apabila dilakukan di tengah kepungan kabut asap. Partisipasi fisik yang intensif di ruang terbuka pada saat kualitas udara memburuk akan membuat paru-paru menghirup partikel berbahaya secara lebih banyak dan dalam.
Berdasarkan pantauan data dari Indeks Standar Pencemar Udara atau ISPUnet pada hari Kamis pukul 12.00 WIB, kualitas udara di wilayah Sampit menunjukkan angka 104 dengan parameter kritis PM10 yang menempatkannya dalam status tidak sehat. Kondisi atmosfer seperti ini dinilai bersifat merugikan bagi kelangsungan kesehatan manusia, hewan, maupun tumbuhan di sekitar wilayah terdampak.
Muhammad Irfansyah menyampaikan penjelasan mengenai pentingnya menyesuaikan bentuk aktivitas fisik di tengah situasi cuaca yang tidak mendukung:
“Tujuan kita berolahraga itu kan supaya sehat, tapi kalau lagi asap ya jangan berolahraga di luar ruangan dulu. Kan banyak olahraga yang bisa dilakukan di dalam ruangan sehingga tidak terhirup asap kebakaran lahan”
Muhammad Irfansyah — ANTARA News
Ancaman Polusi Udara Karhutla Terhadap Kesehatan Warga
Sebagai langkah antisipasi terhadap risiko infeksi saluran pernapasan akut serta gangguan organ vital lainnya, otoritas setempat menyarankan agar masyarakat mengalihkan jenis latihan fisik ke dalam ruangan tertutup. Berbagai bentuk aktivitas kebugaran alternatif masih bisa dieksplorasi tanpa harus terpapar langsung oleh pekatnya debu dan sisa pembakaran yang mencemari udara luar rumah.
Masyarakat tetap mempunyai banyak pilihan gerakan senam mandiri atau latihan beban di rumah guna menjaga kebugaran tubuh tanpa mengorbankan aspek keselamatan pernapasan. Kepatuhan terhadap imbauan situasional ini dinilai sangat krusial agar warga tidak mengalami penurunan fungsi organ tubuh akibat akumulasi polutan karhutla.
Menekankan kembali langkah antisipasi yang harus diambil oleh warga, Muhammad Irfansyah menambahkan penegasan berikut:
“Kalau asap pekat, kami imbau kurangi atau bahkan hentikan dulu olahraga di luar ruangan. Kita lihat situasionalnya, kalau kabut asap parah, mengapa kita paksa berolahraga di luar ruangan? Justru bisa mengganggu kesehatan”
Muhammad Irfansyah — ANTARA News
Penanganan dampak kebakaran hutan dan lahan di Kotawaringin Timur tentu membutuhkan kerja sama lintas sektor, termasuk kesadaran mandiri dari masyarakat untuk mengurangi paparan polusi di ruang terbuka. Pemantauan berkala terhadap status kualitas udara harus terus dijadikan acuan utama sebelum memutuskan untuk melakukan kegiatan fisik di luar ruangan demi mencegah timbulnya masalah kesehatan yang lebih luas di kemudian hari.
Sumber rujukan: ANTARA News, kalteng.antaranews.com.