Saham Asing Jual Besar Saat IHSG Naik 1,82% ke 6.636, Ini 10 Saham Terbebas

Layar monitor di Bursa Efek Indonesia menampilkan kenaikan IHSG 1,82% ke 6.636 poin
Layar monitor di Bursa Efek Indonesia menampilkan kenaikan IHSG 1,82% ke 6.636 poin. Kredit: Wikimedia Commons (Public domain). Sumber: “Photograph shows stock brokers working at the New York Stock Exchange”. Digunakan sesuai CC0 1.0; halaman sumber.

SatuIndonesia.eu.org - Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan 1,82% dalam seminggu terakhir, menembus level 6.636 poin. Meskipun indeks berakhir melemah 31,4 poin atau 0,47% pada penutupan Jumat, 4 September 2026, tren mingguan tetap positif.

Arus modal asing menjadi faktor utama. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan net buy asing mencapai Rp1,85 triliun secara keseluruhan, sementara laporan lain mencatat aliran masuk sebesar Rp2,30 triliun selama periode yang sama.

Kebijakan beli asing tidak merata. Saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya empat bank terbesar (BRI, BCA, Mandiri, dan BNI), menjadi target utama pembelian. Hal ini sejalan dengan laporan finance.detik.com yang menyoroti aksi beli agresif pada saham BRI dan BCA pada akhir Agustus, memperkuat persepsi bahwa sektor perbankan tetap menjadi magnet bagi modal luar negeri.

Di sisi lain, sejumlah saham mengalami tekanan jual signifikan dari investor asing. Menurut data RTI Business yang dirujuk oleh Kontan.co.id, total net sell asing mencapai Rp326 miliar dalam seminggu tersebut. Sepuluh emiten dengan nilai penjualan terbesar meliputi Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dengan Rp485,66 miliar, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) Rp337,42 miliar, PT Indosat Tbk (ISAT) Rp225,62 miliar, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp173,00 miliar, dan PT Petrosea Tbk (PTRO) Rp162,70 miliar, diikuti oleh beberapa emiten lain dengan nilai penjualan di atas Rp100 miliar.

Reaksi pasar domestik mencerminkan dualitas persepsi. Investor ritel dan analis pasar menilai bahwa penjualan saham-saham non‑bank ini mencerminkan penyesuaian portofolio setelah periode akumulasi modal asing, sementara pembelian pada sektor perbankan dipandang sebagai strategi jangka panjang mengingat prospek pertumbuhan kredit dan kebijakan moneter yang mendukung.

Meskipun aliran keluar pada beberapa saham menimbulkan kekhawatiran, total likuiditas pasar tetap kuat. Suara.com melaporkan volume transaksi harian meningkat secara signifikan, menandakan bahwa pasar tetap likuid dan mampu menyerap fluktuasi aliran modal. Secara keseluruhan, net buy asing yang mencapai antara Rp1,85 hingga Rp2,30 triliun menunjukkan kepercayaan investor internasional terhadap fundamental ekonomi Indonesia, meski mereka selektif dalam memilih emiten.

Dengan IHSG terus menguat dan aliran modal asing tetap positif meski terfokus pada sektor tertentu, dinamika pasar saham Indonesia diperkirakan akan tetap volatil dalam jangka pendek. Pengamat menyarankan pelaku pasar untuk memantau kebijakan moneter serta laporan keuangan emiten yang menjadi target jual asing, guna mengidentifikasi peluang investasi yang lebih stabil di tengah pergerakan modal global.

Sumber rujukan: investasi.kontan.co.id, finance.detik.com, market.bisnis.com, suara.com.

Menyiapkan ruang diskusi…
Previous Post Next Post

News