
SatuIndonesia.eu.org - Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diproyeksikan bakal melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan Rabu, 2 September 2026. Tekanan terhadap mata uang Garuda ini terjadi setelah pada perdagangan hari sebelumnya ditutup merosot 22 poin ke posisi Rp 17.744 per dolar AS.
Pergerakan mata uang domestik pada awal September ini dipengaruhi oleh dinamika serta sentimen yang berkembang dari dalam negeri. Sejumlah pengamat pasar uang mencermati adanya faktor internal yang menahan laju penguatan rupiah.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa pergerakan rupiah sepanjang hari ini diperkirakan bergerak variatif namun tetap berisiko berakhir di zona merah.
Menurut perhitungannya, estimasi pergerakan nilai tukar mata uang domestik akan tertahan pada kisaran tertentu seiring dengan masuknya tekanan dari indikator ekonomi dalam negeri terbaru.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rentang pergerakan mata uang domestik. Sebagaimana dikutip dari www.jawapos.com:
“Untuk perdagangan (2/9) mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.740-Rp 17.790”
Ibrahim Assuaibi — www.jawapos.com
Sektor Manufaktur Alami Kontraksi
Salah satu penekan utama mata uang nasional datang dari sektor manufaktur yang kembali menunjukkan penurunan kinerja. Angka Indeks Manajer Pembelian atau PMI Manufaktur Indonesia tercatat merosot ke level 49,8 pada Agustus 2026, berbalik dari posisi 50,2 pada Juli 2026.
Penurunan angka indeks tersebut menjadi cerminan bahwa kondisi operasional industri manufaktur kembali berada di area kontraksi. Hal ini terjadi setelah sektor industri sempat mencatatkan pertumbuhan tipis pada periode bulan sebelumnya.
Data survei menunjukkan bahwa tingkat produksi serta penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur mengalami penurunan dalam lima dari enam periode survei terakhir. Kondisi tersebut menjadi indikator negatif bagi pergerakan rupiah karena menandakan aktivitas ekonomi domestik belum sepenuhnya solid.
Ibrahim menilai penurunan Indeks Manajer Pembelian menjadi penanda adanya pelemahan operasional di sektor industri. Sebagaimana dikutip dari www.jawapos.com:
“Menunjukkan bahwa kondisi operasional sektor manufaktur kembali mengalami kontraksi setelah sempat mencatatkan ekspansi tipis pada bulan sebelumnya”
Ibrahim Assuaibi — www.jawapos.com
Seirama dengan pandangan tersebut, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta Utama, turut memprediksi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi mengalami pelemahan sepanjang September 2026.
Di sisi lain, sentimen penyeimbang datang dari laju inflasi domestik yang masih relatif terjaga. Data Badan Pusat Statistik mencatat perkembangan inflasi nasional sejauh ini tetap terkendali, sehingga memberikan sedikit ketahanan bagi pasar keuangan internal.
Kombinasi antara laju inflasi yang terjaga dan penurunan aktivitas industri manufaktur diperkirakan terus memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek. Para pelaku pasar terus memantau perkembangan indikator ekonomi domestik guna mengantisipasi tekanan lebih lanjut pada mata uang nasional.
Sumber rujukan: jawapos.com, www.jawapos.com, tempo.co.