Banyak orang keliru menganggap bahwa memiliki berat badan ideal atau tubuh langsing berarti terbebas dari risiko kolesterol tinggi. Padahal, kadar kolesterol dalam darah tidak selalu berkorelasi dengan penampilan fisik seseorang. Kondisi ini sering kali berkembang secara diam-diam tanpa gejala yang jelas, sehingga banyak penderita baru menyadari penyakitnya setelah mengalami komplikasi serius seperti stroke atau serangan jantung.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, menegaskan bahwa penampilan fisik bukan tolok ukur utama kesehatan metabolik. Seseorang dengan indeks massa tubuh (BMI) normal tetap bisa menyimpan lemak visceral berlebih di sekitar organ tubuh yang memicu resistensi insulin dan peningkatan kadar kolesterol LDL.
“Satu-satunya cara mengetahui kadar kolesterol adalah melalui pemeriksaan darah. Karena itu, pemeriksaan profil lipid secara berkala sangat penting, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga penyakit jantung, diabetes, atau hipertensi,” ujar Susetyo dalam sesi edukasi media di Jakarta.
Senada dengan hal tersebut, dokter Choirul Mufied dalam Dialog Kesehatan di RRI Purwokerto pada Selasa (4/8/2026) menjelaskan bahwa kolesterol sebenarnya adalah zat lemak yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk hormon, vitamin D, dan membran sel. Namun, masalah kesehatan muncul ketika kadar kolesterol jahat atau LDL meningkat dan menumpuk di dinding pembuluh darah.
“Kolesterol bukan musuh tubuh. Yang perlu diwaspadai adalah ketika kadar kolesterol jahat atau sering disebut LDL meningkat dan tidak terkontrol, karena dapat memicu penyempitan pembuluh darah hingga meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke,” jelas dr. Mufied.
Menurut data medis, banyak kasus stroke berkaitan erat dengan dislipidemia atau kadar lipid darah yang abnormal. Sebagai contoh, seorang pasien berusia 71 tahun asal Hanoi, Vietnam, mengalami stroke berat akibat kadar kolesterol yang mencapai 9,8 mmol/L. Pasien tersebut mengaku tidak merasakan gejala tidak biasa sebelum serangan terjadi, yang akhirnya menyebabkan kelumpuhan total akibat pecahnya pembuluh darah di otak.
Para ahli medis menekankan bahwa deteksi dini melalui pemeriksaan darah setiap enam bulan sangat dianjurkan bagi kelompok berisiko tinggi. Kelompok ini mencakup lansia, penderita hipertensi, individu yang kelebihan berat badan, perokok, serta mereka yang kurang aktif secara fisik atau sering mengonsumsi makanan tinggi lemak.
Terkait pola makan, dr. Mufied meluruskan mitos bahwa semua makanan berkolesterol harus dihindari. Menurutnya, langkah yang lebih krusial adalah membatasi asupan lemak jenuh dan lemak trans. Kedua jenis lemak tersebut terbukti lebih signifikan dalam meningkatkan kadar LDL dibandingkan kandungan kolesterol alami dalam makanan.
Hingga saat ini, edukasi mengenai pentingnya pemeriksaan profil lipid terus digencarkan oleh berbagai pihak, termasuk kolaborasi antara sektor farmasi dan organisasi medis. Langkah ini bertujuan agar masyarakat tidak lagi mengandalkan persepsi visual semata, melainkan beralih pada tindakan preventif berbasis data medis untuk menekan angka kejadian penyakit kardiovaskular sejak dini.