
SatuIndonesia.eu.org - Jakarta - Puluhan tahun setelah kepergiannya, sosok mendiang pemimpin Tiongkok, Mao Zedong, kembali mencuri perhatian generasi muda di internet. Di berbagai platform video, kompilasi rekaman tentang figur politik paling menentukan pada abad ke-20 itu mendulang jutaan penayangan serta dibanjiri puluhan ribu komentar pujian dari kalangan anak muda.
Bagi sebagian besar anak muda di Tiongkok, ketertarikan ini bukan sekadar bentuk nostalgia terhadap masa lalu. Fenomena yang berkembang di dunia maya tersebut mencerminkan pergeseran cara pandang generasi penerus dalam melihat sejarah, sekaligus menandai dinamika sosial baru di tengah arus digital.
Platform video seperti Bilibili, yang basis penggunanya didominasi oleh kelompok usia 18 hingga 24 tahun, menjadi salah satu ruang utama tempat diskursus ini hidup. Berbagai video yang mendokumentasikan tahap kehidupan Mao—mulai dari masa mudanya, kiprahnya sebagai komandan militer, hingga perannya sebagai pemimpin era Perang Dingin—terus menarik atensi publik luas.
Ketertarikan tersebut bahkan merambah ke dunia akademis. Buku Selected Works of Mao Zedong tercatat secara tak terduga menjadi salah satu bacaan yang paling sering dipinjam di Perpustakaan Universitas Tsinghua dalam beberapa tahun terakhir. Di kalangan anak muda, ia kerap disapa secara khusus menggunakan sebutan Guru, sebuah panggilan yang memiliki akar historis tersendiri dari interaksinya dengan jurnalis asing pada masa lampau.
Minat yang menguat ini menghadirkan kontras tersendiri apabila dibandingkan dengan kebijakan resmi masa lalu. Partai Komunis China pada 1981 sempat mengadopsi resolusi yang menyeimbangkan pencapaian dan kesalahan kepemimpinan Mao dengan rumusan terkenal, serta secara bertahap mengurangi pemajangan potret dirinya di ruang publik untuk memandangnya secara proporsional sebagai figur sejarah.
Kendati demikian, ruang diskusi daring yang dinikmati oleh para pelajar dan mahasiswa ini tetap memiliki batasan tersendiri. Sejumlah pengamat mencatat bahwa kebebasan berdiskusi mengenai sejarah dan tokoh masa lalu tidak serta-merta berlaku secara terbuka untuk kepemimpinan politik saat ini di tengah ketatnya pengawasan serta mekanisme swasensor di ruang digital.
Dong mengungkapkan kesannya setelah menyaksikan rekaman video penampilan lagu patriotik di depan patung Mao muda. Sebagaimana dikutip dari www.bbc.com:
“Mereka bernyanyi dengan penuh penghayatan, dan patung itu begitu tinggi dan muda. Saat menontonnya, saya tiba-tiba merasa cukup emosional”
Dong — www.bbc.com
Pandangan Pakar dan Realitas Sosial Generasi Muda
Perhatian yang ditujukan kepada sosok Mao di kalangan generasi muda Tiongkok tidak terlepas dari konteks sosial yang mereka hadapi saat ini. Sejumlah akademisi menilai bahwa ketertarikan tersebut erat kaitannya dengan persepsi publik terhadap isu ketimpangan kekayaan serta tantangan mobilitas sosial yang dirasakan oleh kaum muda.
Dong, seorang pelajar yang berasal dari Nanjing, mengaku tersentuh ketika menyaksikan video penampilan lagu patriotik di depan patung Mao muda di Pulau Juzizhou, Changsha. Pengalaman emosional semacam itu sering kali dibahas secara mendalam bersama rekan-rekan sebayanya di dalam komunitas diskusi daring.
Mereka bernyanyi dengan penuh penghayatan, dan patung itu begitu tinggi dan muda. Saat menontonnya, saya tiba-tiba merasa cukup emosional.
Diskusi yang berkembang di antara generasi muda ini menunjukkan bagaimana sejarah masa lalu ditafsirkan ulang sesuai dengan realitas zaman modern. Di tengah dinamika zaman yang terus berubah, sosok pemimpin yang memimpin pendirian Republik Rakyat China pada 1949 tersebut tetap menyisakan ruang tafsir yang luas bagi generasi penerus bangsa.
Perhatian yang terus berlanjut terhadap figur Mao Zedong memperlihatkan kompleksitas hubungan antara generasi muda Tiongkok dan warisan sejarah negaranya. Di tengah berbagai tantangan sosial kontemporer, penelusuran kembali akar sejarah menjadi salah satu cara bagi generasi baru untuk memahami posisi mereka di tengah masyarakat.
Sumber rujukan: bbc.com, www.bbc.com, news.detik.com.