Macau saat ini tengah menjadi pusat perhatian dalam peta geopolitik dan linguistik global. Wilayah administratif khusus Tiongkok ini sedang melakukan evaluasi mendalam terhadap perannya dalam Forum Macau untuk memperkuat kerja sama multilateral, sembari mencatat pergeseran signifikan dalam persepsi generasi muda terhadap bahasa Portugis. Langkah ini mencerminkan upaya Macau dalam menyeimbangkan pengaruh ekonomi dengan diplomasi budaya yang lebih luas.
Sebuah makalah kerja terbaru dari peneliti Alberto Maresca mengusulkan agar Forum Macau bertransformasi menjadi proyek bersama yang lebih inklusif bagi negara-negara berbahasa Portugis. Maresca berpendapat bahwa ketergantungan yang berlebihan pada Tiongkok dapat dikurangi dengan mengintegrasikan keunggulan komparatif Brasil di negara-negara Afrika berbahasa Portugis (PALOP). Dalam tulisannya yang berjudul “Brazil’s foreign policy involves PALOP and cooperation triangular with China: Forum Macau in the multipolar order”, ia menyoroti potensi besar dari kolaborasi ini.
Maresca menjelaskan bahwa “Brazil poses a comparative advantage in the PALOP [Portuguese-speaking African countries], supported by the Portuguese language, historical and cultural ties, and academic cooperation, which constitutes a soft power that is difficult to replicate by other actors in the Global South.” Di sisi lain, ia menambahkan bahwa “China stands out on its own economic and infrastructural capacity.” Dengan menggabungkan kekuatan lunak Brasil dan otot ekonomi Tiongkok, Forum Macau dapat menjadi ruang strategis untuk memperkuat multilateralisme Selatan-Selatan, alih-alih terjebak dalam logika kompetisi yang sempit.
Penelitian ini menepis anggapan umum bahwa Brasil tidak memiliki minat terhadap Forum Macau. Maresca menegaskan bahwa Brasil telah mempertahankan kebijakan luar negeri yang berfokus pada negara-negara PALOP sejak masa pemerintahan Geisel, yang kemudian diintensifkan di era pemerintahan Lula untuk memperkuat posisi Brasil sebagai pemain global. Kehadiran di Afrika, menurutnya, adalah bagian dari visi strategis jangka panjang Brasil.
Secara paralel, dinamika internal Macau menunjukkan perkembangan unik dalam aspek linguistik. Studi bertajuk Linguistic Attitudes of Young People in Macau (2023) yang dilakukan oleh peneliti dari University of Macau mengungkapkan bahwa bahasa Portugis kini memiliki status yang lebih tinggi dibandingkan bahasa Inggris di mata kaum muda setempat. Penelitian ini menggunakan teknik matched-guise untuk mengukur sikap linguistik tanpa bias metodologi langsung.
Roberval Teixeira e Silva, profesor di Pusat Linguistik universitas tersebut, menjelaskan bahwa fenomena ini bersifat instrumental. “What we are seeing is a clearly instrumental view of Portuguese, which is regarded primarily as a vehicle for social mobility because of the possibility of securing well-paid jobs in the public administration,” ujarnya. Meskipun bahasa Kanton dan Mandarin standar tetap memegang peranan penting dalam interaksi sosial dan profesional, bahasa Portugis kini dipandang sebagai kunci utama untuk mengakses pasar tenaga kerja elit di sektor pemerintahan. Temuan ini menegaskan kembali posisi unik Macau, di mana identitas sejarah berpadu erat dengan realitas ekonomi modern yang menuntut mobilitas sosial tinggi.