Krisis Mental di USS Abraham Lincoln, Pelaut Nekat Ingin Melompat

Kapal induk USS Abraham Lincoln saat menjalani penugasan di laut.
Sumber gambar: Wikimedia Commons.

Kondisi kesehatan mental para pelaut di kapal induk USS Abraham Lincoln menjadi sorotan setelah muncul laporan mengenai beberapa anggota kru yang mencoba melompat ke laut. Insiden ini terjadi di tengah masa penugasan kapal yang telah memasuki bulan kesembilan, jauh melampaui jadwal kepulangan awal yang seharusnya berakhir pada Mei.

Sekitar 5.000 pelaut dan Marinir saat ini masih berada di wilayah Timur Tengah untuk mendukung operasi militer Amerika Serikat melawan Iran. Penugasan yang dimulai sejak 21 November tersebut telah diperpanjang tanpa adanya pengumuman resmi mengenai tanggal kepulangan.

Annabelle Loma, warga San Diego yang suaminya bertugas di kapal tersebut, mengungkapkan bahwa suaminya kini berada dalam pengawasan medis setelah mencoba melompat dari kapal. Menurut Loma, suaminya mengalami kelelahan ekstrem akibat penugasan yang terus diperpanjang. “He’s scared,” ujar Loma. “He thinks he’ll get a dishonorable discharge, and just because he was burnt out, his 13-year career is ruined, just like that. That’s not fair, that’s not right. That’s not what he should be worrying about right now.”

Dalam insiden terpisah, Maria Rodriguez menceritakan kesaksian suaminya yang berhasil menggagalkan upaya seorang rekan untuk melompat ke laut. Suami Rodriguez berhasil menarik rekan tersebut kembali ke geladak setelah melihatnya bersiap melompat. “He said he hadn’t felt adrenaline like that in his life, and he was just so thankful he was able to get to [the sailor] in time, to stop them from going overboard,” kata Rodriguez menirukan ucapan suaminya.

Tekanan yang dirasakan para pelaut juga diakui oleh pihak Angkatan Laut. Wakil Laksamana Joseph Cahill, komandan Naval Surface Forces, dalam sebuah pertemuan virtual menyatakan bahwa pihaknya memahami dampak berat dari penugasan panjang ini. “We hear you loud and clear [regarding] the impact this has on families, on service members and the long-term ability of us to stand, sustain our forces’ health,” ujar Cahill.

Keluarga pelaut lain, Sanders, juga menyoroti sulitnya komunikasi dengan anggota keluarga yang bertugas. “When she can email me, she’s definitely down,” ungkap Sanders. Ia menambahkan bahwa intensitas operasi tempur membuat komunikasi menjadi sangat terbatas. “I think they’ve had five weeks of non-stop combat operations or something like that, so that makes it really tough to communicate consistently or even know if we’ll be able to. It sucks.”

Post a Comment

Previous Post Next Post

News