Wacana mengenai penerapan Daylight Saving Time (DST) atau waktu musim panas secara permanen di Amerika Serikat kembali menjadi sorotan publik. Meski Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS telah meloloskan rancangan undang-undang terkait, kebijakan tersebut masih harus menempuh proses panjang di Senat sebelum dapat disahkan menjadi undang-undang.
Hingga saat ini, masyarakat Amerika Serikat masih diwajibkan untuk melakukan penyesuaian waktu dua kali dalam setahun. Sesuai dengan jadwal yang berlaku sejak 1916, warga dijadwalkan untuk memutar mundur jam mereka sebanyak satu jam pada tanggal 1 November 2026. Praktik ini tetap berjalan selama belum ada keputusan hukum baru yang mengubahnya.
Sunshine Protection Act, yang menjadi payung hukum bagi upaya permanen DST, telah disetujui oleh DPR AS pada 14 Juli dengan perolehan suara 308-117. Pendukung kebijakan ini, termasuk kalangan pelaku usaha, berpendapat bahwa penambahan durasi cahaya di sore hari dapat memberikan dampak positif bagi ekonomi. CEO National Golf Course Owners Association, Jay Karen, menyebut bahwa penyesuaian waktu ini dapat meningkatkan aktivitas luar ruangan.
“Our research found that aligning daylight with Americans' free time, not just adding daylight but placing it when people can actually use it, could create more than 23 million additional rounds of golf and over $1 billion in economic activity annually,” ujar Karen dalam kesaksiannya di hadapan komite Senat.
Di sisi lain, gagasan ini menuai kritik tajam terkait potensi dampak negatif di musim dingin. Para penentang, termasuk Senator Tom Cotton dari Arkansas, menyoroti bahwa penerapan DST permanen akan menyebabkan matahari terbit jauh lebih lambat, bahkan hingga mendekati pukul 9 pagi di beberapa wilayah saat puncak musim dingin.
“By moving the clock back an hour in winter, permanent daylight saving time would push winter sunrises to an absurdly late hour, depriving Americans of morning sunshine that is essential for our safety and well-being,” tegas Cotton dalam pidatonya. Kekhawatiran utama mencakup keselamatan anak-anak sekolah yang harus menunggu bus di kondisi gelap serta kesejahteraan masyarakat secara umum.
Sejarah mencatat bahwa Amerika Serikat pernah mencoba menerapkan DST permanen pada tahun 1974. Namun, kebijakan tersebut akhirnya dibatalkan karena respons negatif masyarakat terhadap kondisi pagi hari yang tetap gelap hingga larut. Saat ini, Sunshine Protection Act masih menunggu tinjauan dan pemungutan suara lebih lanjut di Senat. Jika disetujui, RUU tersebut akan dikirimkan kepada Presiden untuk ditandatangani.