Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah pada perdagangan Selasa (11/8/2026). Indeks tercatat turun 97,49 poin atau 1,53 persen ke posisi 6.267,88, sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 ikut terkoreksi 8,34 poin atau 1,32 persen ke posisi 625,79.
Pelemahan ini terjadi di tengah sikap pelaku pasar yang cenderung wait and see menantikan hasil tinjauan rebalancing MSCI Inc. terhadap saham-saham global, termasuk Indonesia, untuk periode Agustus 2026. MSCI dijadwalkan mengumumkan hasil tinjauan tersebut pada 12 Agustus 2026 sekitar pukul 23.00 waktu Central European Summer Time (CEST), atau 13 Agustus 2026 pukul 04.00 WIB.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan bahwa pelaku pasar saat ini sangat mencermati perkembangan tersebut. "Pelaku pasar tampaknya cenderung menantikan tinjuan rebalancing MSCI bulan Agustus yang dijadwalkan pada 12 Agustus 2026," ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.
Di sisi domestik, pelaku pasar menaruh harapan besar agar regulator pasar modal dapat memberikan langkah reformasi yang meyakinkan. Harapannya, MSCI dapat segera mencabut status pembekuan (freeze) terhadap saham Indonesia dalam tinjauan indeks kali ini. Hasil evaluasi ini nantinya akan mencakup daftar saham yang masuk (addition) maupun keluar (deletion) dari indeks saham global tersebut dan akan berlaku efektif setelah penutupan perdagangan pada 31 Agustus 2026.
Selain sentimen MSCI, pasar juga merespons perkembangan di sektor perbankan nasional terkait calon definitif Gubernur Bank Indonesia. Pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal pengganti Perry Warjiyo dinilai memberikan katalis positif bagi kepastian kebijakan moneter. Menurut Nico, pengalaman Destry di Bank Indonesia diharapkan mampu menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, meskipun tantangan untuk mempertahankan independensi bank sentral tetap menjadi sorotan utama.
Sementara itu, dari sisi eksternal, bursa Asia bergerak variatif akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, khususnya terkait kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz. Ketidakpastian geopolitik yang memicu kenaikan harga minyak dunia turut menambah kekhawatiran pasar terhadap potensi lonjakan inflasi dan kenaikan suku bunga global, sebagaimana disinggung oleh Presiden Fed Cleveland, Beth Hammack, mengenai perlunya langkah pengendalian inflasi ke target 2 persen.