Megawati Hadiri Peluncuran Autobiografi Erros Djarot: Kisah Gagasnya di Jakarta

Megawati Soekarnoputri hadir dalam acara peluncuran buku autobiografi Erros Djarot di Gedung Kesenian Jakarta
Sumber gambar: Kompas.com.

Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menghadiri peluncuran buku autobiografi karya budayawan Erros Djarot di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Pasar Baru, Jakarta Pusat, pada Minggu (9/8/2026) sore. Acara ini mengedukkan kehadiran tokoh nasional seperti Anies Baswedan (mantan Gubernur Jakarta 2024), Rano Karno (Wakil Gubernur DKI Jakarta), dan Bintang Puspayoga (Ketua DPP PDI-P).

Megawati hadir dalam pakaian batik merah hitam, menjadi simbol perhatian terhadap acara yang mengedepankan nilai moral. Buku ini merupakan bagian dari seri autobiografi Erros Djarot, di mana jilid 2 dan 3 mengedepankan gagas tokoh yang sering dianggap hanya sebagai pendukung politik. Sebelumnya, jilid pertama dari album "Badai Pasti Berlalu" telah dilancurkan pada Oktober 2025.

Acara inti dipandu oleh wartawan senior Bambang Harymurti. Sebagai moderator, ia memimpin bedah buku yang mengungkapkan kisah Erros Djarot dalam membangun citra Megawati Soekarnoputri sebagai simbol perlawanan terhadap Orde Baru. Laksamana Sukardi, bankir sekaligus politikus, menjelaskan peran Erros dalam menggeser PDI menjadi PDIP dan pendukung keberhasilan Megawati dalam reformasi.

"Laksamana bercerita tentang bagaimana dia dan Erros masuk di lingkaran PDI, lalu bergeser nama menjadi PDIP. Erros, sebagai pembuat film, menunjukkan sikap luwes bergaul dengan semua kalangan," ujar Laksamana. Ia menonjolkan bahwa biografi ini lebih menekankan gagas tokoh daripada narasi narsis."

Erros Djarot sendiri memberikan kutipan yang memikat: "Sampaikan kebenaran itu walau menyakitkan. Sebelum kebenaran yang kau sembunyikan menggerogoti pikiran dan batinmu selamanya." Kutipan ini menjadi pusat diskusi di acara, mengedepankan pentingnya transparansi dalam politik.

Hadiran tokoh lain seperti Ferry Juliantono (Menteri Koperasi), Said Didu, Roy Suryo, dan Anies Baswedan, menunjukkan relevansi buku ini dalam konteks politik Indonesia. Buku ini juga mengedukkan tentang dinamika gerakan politik dan strategi membangun identitas politik.

Sebagai tokoh budaya, Erros Djarot juga membahas aspek sufistik dalam hidupnya. "Islam puritan itu biasanya merujuk pada paham salafy," kata Haidar Bagir, Direktur Utama Kelompok Mizan. Kisah tentang Erros larut mangga yang jatuh ke bumi menjadi metafora tentang keberagaman dan toleransi dalam filsafatnya."

Post a Comment

Previous Post Next Post

News