Saham Gudang Garam Anjlok, Analis Ingatkan Aksi Profit Taking

Gedung operasional PT Gudang Garam Tbk yang menjadi fokus perhatian investor di pasar modal.
Ilustrasi dibuat dengan Cloudflare Workers AI.

Harga saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) kembali menunjukkan pergerakan fluktuatif di lantai bursa. Setelah sempat mencatatkan penguatan signifikan, saham emiten rokok ini berbalik arah ke zona merah pada perdagangan sesi kedua, Selasa (11/8/2026).

Berdasarkan data pasar, saham GGRM sempat dibuka stagnan di level Rp 20.750 per saham sebelum akhirnya tertekan. Pada pukul 14.42 WIB, harga saham GGRM tercatat melemah 0,36% ke posisi Rp 20.675 per saham. Pergerakan ini terjadi di tengah tekanan yang juga dialami oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melandai pada sesi kedua.

Analis dari PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai pelemahan ini merupakan respons wajar pasar setelah saham GGRM mengalami reli kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, investor cenderung melakukan aksi jual untuk mengamankan keuntungan.

“Diperkirakan adanya aksi profit taking setelah mengalami kenaikan yang signifikan,” ujar Herditya saat dihubungi, Selasa (11/8/2026). Ia pun merekomendasikan investor untuk bersikap wait and see dengan menetapkan level support di angka 20.300 dan resistance di 20.950.

Sebelumnya, saham GGRM sempat menjadi sorotan karena volatilitasnya yang tinggi. Pada Senin (10/8/2026), saham ini sempat menyentuh level Rp 21.825, yang merupakan harga tertinggi dalam satu tahun terakhir, sebelum akhirnya ditutup melemah 4,49% ke level Rp 20.750. Fenomena ini juga dibarengi dengan aksi jual bersih oleh investor asing sebesar Rp 12,59 miliar pada hari yang sama.

Di sisi lain, manajemen Gudang Garam terus berupaya menavigasi tantangan industri, terutama terkait kenaikan cukai dan daya beli masyarakat. Direktur PT Gudang Garam Tbk, Istata Taswin Siddharta, dalam kesempatan sebelumnya menjelaskan bahwa perseroan telah memperluas varian produk di segmen Sigaret Kretek Tangan (SKT).

“Kami di tahun 2024 dan sampai sekarang juga masih dalam proses sudah mengeluarkan dan dalam proses untuk memperbesar varian ataupun produk dalam segmen SKT sehingga kita juga bisa berpartisipasi pada demand yang timbul dari orang yang mencari rokok lebih murah,” ungkap Istata.

Istata juga menyoroti tantangan berat yang dihadapi industri rokok resmi akibat peredaran produk ilegal. “Tapi yang menjadi masalah sekarang ada lagi SKM tanpa pita cukai ataupun dengan pita cukai yang salah pelekatan dimana mereka itu praktis biayanya nol untuk cukainya,” tambahnya. Kondisi ini dinilai membuat konsumen lebih memilih produk ilegal yang harganya jauh lebih terjangkau dibandingkan rokok resmi dengan cukai penuh.

Previous Post Next Post

نموذج الاتصال