PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) atau DSI resmi memperkenalkan identitas dan struktur pimpinan eksekutifnya pada Senin (24/8) di Jakarta. Perusahaan ini dibentuk melalui Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2026 yang dirancang khusus untuk membenahi tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam strategis nasional.
Dalam langkah awal operasionalnya, DSI memfokuskan pemantauan pada tiga komoditas utama, yaitu batu bara, kelapa sawit, dan ferroalloy. Langkah strategis ini bertujuan untuk mengoptimalkan potensi nilai ekspor nasional sekaligus menjaga kepastian arus perdagangan bagi pelaku industri di seluruh wilayah Indonesia.
Sejak beroperasi selama kurang dari dua bulan terakhir, DSI telah membangun visibilitas analitis terhadap lebih dari 6.500 deklarasi ekspor. Data tersebut mencakup nilai transaksi sebesar USD 14 miliar dengan volume komoditas mencapai 90 juta ton yang tersebar melalui 50 pelabuhan muat menuju lebih dari 100 negara tujuan.
CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menjelaskan bahwa keberadaan DSI tidak dimaksudkan untuk mengintervensi hubungan komersial eksisting antara penjual dan pembeli. Fokus utama perusahaan adalah memastikan transparansi data serta integrasi informasi harga dan volume di pasar global.
Menyoroti pentingnya tata kelola yang lebih baik bagi kekayaan sumber daya nasional, Rosan Roeslani menyatakan bahwa pembenahan sistem sangat krusial bagi kepentingan jangka panjang bangsa.
Data analitik yang dikelola DSI saat ini mengintegrasikan berbagai elemen penting, mulai dari klasifikasi Harmonized System (HS), rincian kapal pengangkut, hingga kualitas komoditas. Melalui pemetaan rantai ekspor yang lebih akurat, perusahaan mengidentifikasi potensi optimalisasi nilai ekonomi dari ketiga komoditas tersebut hingga USD 5 miliar setiap tahunnya.
Menyoroti pentingnya tata kelola yang lebih baik bagi kekayaan sumber daya nasional, Rosan Roeslani menyatakan bahwa pembenahan sistem sangat krusial bagi kepentingan jangka panjang bangsa.
“Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi sumber daya saja tidak cukup. Kita memerlukan tata kelola yang lebih kuat, visibilitas yang lebih baik, dan sistem yang lebih akuntabel untuk memastikan nilai yang dihasilkan dari komoditas-komoditas ini dicatat dan dioptimalkan dengan baik bagi kepentingan nasional”
Rosan Roeslani — kumparan.com
Penguatan Transparansi dan Kapabilitas Operasional
Ke depan, mandat DSI akan mencakup cakupan verifikasi yang lebih luas, termasuk pelacakan kapal dan rekonsiliasi devisa hasil ekspor. Direktur Utama DSI, Luke Mahony, menegaskan bahwa tahapan ini dijalankan dengan mengedepankan prinsip kredibilitas dan keberlanjutan demi mendukung ekosistem perdagangan yang efisien.
Dalam upaya menjaga komitmen terhadap kontrak yang berlaku, Luke Mahony menyampaikan penekanan khusus mengenai keberlangsungan kegiatan ekspor di lapangan.
Struktur pimpinan DSI kini diperkuat oleh dewan komisaris yang dipimpin oleh Cipung Noer, dengan anggota seperti Tony Wenas, Mari Elka Pangestu, dan Harold Tjiptadjaja. Sementara itu, jajaran direksi dipimpin oleh Luke Mahony, dibantu oleh Sinthya Roesly, Nur Hidayat Udin, dan Ivan Ferdiansyah Baely yang memiliki pengalaman luas di bidang investasi dan perdagangan internasional.
Dalam upaya menjaga komitmen terhadap kontrak yang berlaku, Luke Mahony menyampaikan penekanan khusus mengenai keberlangsungan kegiatan ekspor di lapangan.
“Jadi tidak usaha ragu bahwa kita bisa melakukan ekspornya secara langsung we honor the sanctity of the contract”
Rosan Roeslani — kumparan.com
Transformasi tata kelola komoditas melalui DSI diharapkan mampu membawa dampak signifikan terhadap penguatan ekonomi nasional. Dengan sistem yang terintegrasi, pemerintah kini memiliki instrumen baru untuk mengawasi arus komoditas strategis secara lebih akurat, sekaligus memastikan bahwa setiap potensi ekonomi dapat dimaksimalkan dengan tetap menjaga iklim usaha yang kompetitif.
Sumber rujukan: kumparan.com.