Inspektur Jenderal Pentagon pada Kamis (6/8/2026) mengeluarkan peringatan mengenai kondisi infrastruktur militer Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa sejumlah fasilitas militer AS mengalami kerusakan serius yang berpotensi memengaruhi kesiapan militer Washington dalam menghadapi ancaman dari China.
Temuan ini didasarkan pada hasil inspeksi terhadap 11 fasilitas militer AS di kawasan tersebut. Berbagai masalah infrastruktur ditemukan, mulai dari korosi dan lubang pada bangunan, plafon runtuh, hingga masalah jamur dan keberadaan asbes. Sejumlah pejabat Pentagon yang tidak disebutkan namanya menjelaskan bahwa degradasi parah ini disebabkan oleh usia bangunan yang sebagian besar berasal dari era 1970-an.
Masalah yang ditemukan tidak hanya memengaruhi infrastruktur yang berkaitan langsung dengan kesiapan tempur, tetapi juga fasilitas yang digunakan oleh personel militer dan keluarga mereka, termasuk infrastruktur air dan perumahan. Laporan tersebut disusun dengan mempertimbangkan masukan dari berbagai pejabat Pentagon, termasuk pejabat modernisasi infrastruktur, Komando Pasifik AS, Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara.
Mark Sinder, Deputi Asisten untuk Modernisasi Infrastruktur, menyatakan bahwa departemen militer bersama para pemangku kepentingan terkait akan memimpin upaya penanganan berbagai kekurangan infrastruktur yang telah diidentifikasi. Ia menambahkan bahwa jadwal rinci untuk memperbaiki seluruh masalah tersebut akan segera disusun.
Mengutip mediaindonesia.com, “Kerja sama pertahanan dengan Amerika Serikat tidak diarahkan pada pembentukan pangkalan militer Amerika Serikat di Indonesia. Kerja sama difokuskan pada program-program yang memberikan manfaat bagi peningkatan kapasitas pertahanan nasional, khususnya pendidikan, pelatihan, peningkatan kemampuan personel, serta penguatan interoperabilitas sesuai kebutuhan dan kepentingan Indonesia,”