Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan sesi pertama pada Senin (24/8) dengan tren penurunan. Berdasarkan data dari Stockbit, indeks terpantau melemah 45,04 poin atau sekitar 0,69 persen, sehingga berada di level 6.480,65.
Koreksi pasar domestik ini terjadi bersamaan dengan melemahnya mayoritas bursa saham di kawasan Asia. Kondisi pasar yang cenderung tertekan juga terlihat pada nilai tukar rupiah yang mengalami depresiasi tipis terhadap dolar AS.
Aktivitas perdagangan pada sesi pertama menunjukkan volume transaksi yang cukup signifikan. Tercatat sebanyak 24,80 miliar lembar saham berpindah tangan dengan frekuensi transaksi mencapai 1,39 juta kali. Sementara itu, total nilai transaksi yang tercatat adalah sebesar Rp9,03 triliun.
Di pasar valuta asing, rupiah menunjukkan pergerakan yang cenderung melemah. Mengutip data Bloomberg, mata uang Garuda tersebut turun 3 poin atau 0,02 persen ke posisi Rp17.697 per dolar AS.
Pergerakan saham secara individual menunjukkan hasil yang kontras. Pelangi Indah Canindo (PICO) menjadi penguat tertinggi dengan kenaikan 47 poin atau 34,31 persen ke level 184, disusul oleh Centratama Telekomunikasi Indonesia (CENT) yang naik 27,91 persen ke level 110. Saham Steady Safe (SAFE) dan Ingria Pratama Capitalindo (GRIA) juga mencatatkan penguatan masing-masing sebesar 23,35 persen dan 23,08 persen.
Di sisi lain, tekanan jual terlihat jelas pada saham Harta Djaya Karya (MEJA) yang merosot 9,92 persen ke level 118. Citra Tubindo (CTBN) mengalami penurunan 7,49 persen ke level 3.210, diikuti oleh Estee Gold Feet (EURO) yang turun 7,21 persen ke level 1.480. Penurunan juga terjadi pada Sejahteraraya Anugrahjaya (SRAJ) sebesar 6,91 persen dan Fuji Finance Indonesia (FUJI) sebesar 6,59 persen.
Sentimen Regional Asia
Kondisi IHSG yang memerah sejalan dengan tren negatif yang melanda bursa saham di Asia. Data dari Stockbit dan Yahoo Finance menunjukkan penurunan kompak di beberapa indeks utama kawasan tersebut.
Indeks Hang Seng di Hong Kong mencatatkan penurunan terdalam sebesar 2,16 persen ke level 25.455. Sementara itu, indeks SSE Composite di China melemah 0,72 persen ke level 3.877,3 dan Nikkei 225 di Jepang turun 0,48 persen ke posisi 65.700,5. Indeks Straits Times di Singapura juga tidak luput dari tren merah dengan koreksi 0,18 persen ke level 5.678,5.
Dari sisi likuiditas, beberapa saham menunjukkan nilai transaksi tertinggi atau top value. Bumi Resources (BUMI) memimpin dengan nilai transaksi mencapai Rp526,97 miliar, diikuti oleh Dian Swastatika Sentosa (DSSA) senilai Rp468,39 miliar dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) senilai Rp330,64 miliar.
Selain itu, Chandra Asri Pacific (TPIA) dan Bumi Resources Minerals (BRMS) turut mencatatkan nilai transaksi besar dengan masing-masing sebesar Rp313,00 miliar dan Rp292,82 miliar. Dalam hal volume, BUMI tetap menjadi yang terlaris dengan jumlah perdagangan mencapai 26,70 juta lembar saham.
Kombinasi tekanan dari pasar regional Asia dan pelemahan nilai tukar rupiah menjadi faktor yang membayangi pergerakan IHSG pada perdagangan sesi pertama ini. Pasar kini menantikan apakah tren penurunan ini akan berlanjut atau terjadi pembalikan arah pada sesi perdagangan berikutnya.
Sumber rujukan: kumparan.com.