SATUINDONESIA.Eu.Org - Jakarta - Pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saiful Mujani, kembali menjadi sorotan setelah merilis data survei elektabilitas terbaru. Dalam riset yang dilakukan pada Oktober 2026, lembaga tersebut mencatat penurunan elektabilitas Presiden Prabowo Subianto yang cukup signifikan, yakni mencapai 9,8 persen.
Hasil riset ini memicu diskusi luas mengenai masa depan dukungan publik terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran. Saiful Mujani bahkan melontarkan pandangan kritis terkait legitimasi pemerintahan saat ini. Ia menyatakan kekhawatiran mengenai stabilitas nasional dan menyebutkan bahwa jika pemilihan umum digelar saat ini, Prabowo-Gibran diprediksi tidak akan kembali terpilih.
Selain menyoroti elektabilitas, Saiful Mujani juga memberikan analisis mengenai konstelasi politik ke depan. Terkait dengan regulasi UU Pemilu yang mewajibkan dukungan dari dua partai di DPR, ia memprediksi hanya akan ada tiga pasangan calon presiden yang berkontestasi. Dalam skenario tersebut, ia menyinggung potensi menguatnya persaingan antara pasangan Prabowo-Puan melawan AHY-Anies.
Pandangan Saiful Mujani ini menambah dinamika di tengah perdebatan metodologi survei yang kerap muncul. Perbedaan hasil riset antarlembaga survei, termasuk perbandingan opini publik di lingkungan kampus, menunjukkan betapa cairnya peta dukungan politik nasional saat ini. Hingga kini, efektivitas dan legitimasi pemerintahan Prabowo-Gibran terus menjadi perhatian utama dalam berbagai kajian politik kuantitatif di Indonesia.
Sebagaimana dikutip dari bangka.tribunnews.com, “Ringkasan Berita: Saiful Mujani merupakan guru besar ilmu politik dan pendiri SMRC yang merilis survei elektabilitas capres. Elektabilitas Prabowo Subianto tercatat turun hingga 9,8 persen pada riset Oktober 2026. Sosok Saiful Mujani juga sempat disorot publik akibat pandangan kritisnya terhadap kepemimpinan nasional.”