Sektor Kesehatan Dominasi Antrean IPO di Bursa Efek Indonesia

Gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta yang menjadi pusat aktivitas pasar modal nasional.
Sumber gambar: wartaekonomi.co.id.

SATUINDONESIA.Eu.Org - Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat tren menarik dalam aktivitas pasar modal nasional hingga awal Oktober 2026. Sektor kesehatan kini mendominasi daftar perusahaan yang sedang mengantre untuk melaksanakan penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO).

Berdasarkan data terbaru per 2 Oktober 2026, terdapat tujuh perusahaan yang berada dalam pipeline pencatatan saham di BEI. Dari jumlah tersebut, empat perusahaan di antaranya berasal dari sektor kesehatan atau healthcare. Sementara itu, dua perusahaan lainnya bergerak di sektor energi dan satu perusahaan berasal dari sektor industri.

Klasifikasi aset perusahaan-perusahaan yang mengantre tersebut merujuk pada POJK Nomor 53/POJK.04/2017. Sebanyak dua perusahaan masuk dalam kategori aset skala kecil dengan nilai di bawah Rp50 miliar, tiga perusahaan masuk kategori aset skala menengah dengan nilai Rp50 miliar hingga Rp250 miliar, dan dua perusahaan lainnya memiliki aset di atas Rp250 miliar.

Dominasi sektor kesehatan ini terjadi di tengah dinamika industri yang terus berkembang. Sepanjang tahun 2026, BEI telah mencatatkan tujuh perusahaan yang melantai di bursa dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp2,16 triliun.

Selain aktivitas IPO, pasar modal Indonesia juga mencatat penghimpunan dana melalui efek bersifat utang dan sukuk (EBUS). Hingga 2 Oktober 2026, tercatat 135 emisi dari 62 penerbit EBUS dengan total dana mencapai Rp132,98 triliun. Saat ini, masih terdapat 24 emisi dari 17 penerbit EBUS yang berada dalam antrean proses.

Sektor finansial menjadi penyumbang terbesar dalam penerbitan EBUS dengan enam perusahaan, diikuti oleh sektor energi sebanyak empat perusahaan dan infrastruktur sebanyak tiga perusahaan. Sementara untuk aksi korporasi rights issue, sebanyak 15 perusahaan telah melaksanakannya dengan nilai total Rp16,23 triliun, dan masih terdapat satu perusahaan dari sektor properti dan real estat yang berada dalam antrean.

Menyiapkan ruang diskusi…
Previous Post Next Post

News