Peristiwa ini terjadi di wilayah konflik aktif yang menjadi area operasi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan tersebut.
Ketua Majelis Pertimbangan Pusat Partai Keadilan Sejahtera, Mulyanto, menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya prajurit tersebut. Ia menegaskan bahwa pengorbanan tersebut mencerminkan komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia.
Namun, menurutnya, hal itu tidak boleh mengabaikan aspek keselamatan prajurit. Ia menekankan pentingnya evaluasi total terhadap sistem perlindungan yang diterapkan pemerintah.
"Evaluasi juga harus mencakup peninjauan terhadap Rules of Engagement (ROE) dan standar operasional prosedur di wilayah konflik aktif agar keselamatan prajurit menjadi prioritas utama tanpa mengurangi efektivitas misi perdamaian," tegas Mulyanto dalam keterangan tertulisnya Senin 30 Maret 2026
Mulyanto menilai bahwa evaluasi tidak boleh bersifat parsial. Pemerintah diminta melakukan audit menyeluruh, mulai dari kesiapan intelijen lapangan hingga kelengkapan Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista).
Ia juga mengingatkan bahwa dinamika konflik di Lebanon Selatan, termasuk eskalasi antara kelompok Hezbollah dan Israel, membuat situasi keamanan semakin kompleks dan berisiko tinggi bagi pasukan perdamaian.
Selain aspek teknis, Mulyanto juga menyoroti pentingnya peran diplomasi Indonesia di tingkat internasional. Ia mendorong pemerintah agar lebih aktif dalam mendorong de-eskalasi konflik di Timur Tengah.
"Indonesia harus tampil sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar penanggung risiko dari konflik yang terus berlarut," kritiknya.
Menurutnya, kontribusi Indonesia dalam misi perdamaian harus diimbangi dengan langkah strategis di forum global agar keselamatan pasukan tetap terjamin.
Lebih lanjut, Mulyanto menegaskan bahwa negara memiliki kewajiban konstitusional untuk melindungi setiap prajurit yang ditugaskan dalam misi internasional. Ia meminta pemerintah mempertimbangkan keseimbangan antara jumlah pasukan yang dikirim dan jaminan keamanan maksimal.
"Negara memiliki kewajiban konstitusional untuk memastikan keselamatan setiap prajurit yang diutus dalam misi internasional. Pengabdian mereka adalah kehormatan bangsa, namun nyawa mereka adalah tanggung jawab negara," kata Mulyanto.
Di akhir pernyataannya, Mulyanto menyampaikan doa bagi prajurit yang gugur serta keluarga yang ditinggalkan.
"Pengorbanan ini tidak akan pernah sia-sia dan akan selalu menjadi bagian dari sejarah pengabdian Indonesia bagi perdamaian dunia," pungkasnya.
Insiden di Lebanon Selatan kembali menjadi pengingat akan tingginya risiko misi perdamaian internasional. Desakan evaluasi dari berbagai pihak menekankan pentingnya perlindungan maksimal bagi prajurit Indonesia di medan konflik.
