TEGANG! Kapal RI Nyaris Terjebak di Zona Perang Selat Hormuz, Pertamina Ungkap Fakta Mengejutkan Ini

Kapal Tanker Pertamina

Jakarta — Di tengah bara konflik panas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, dua kapal tanker milik Indonesia nyaris terseret dalam pusaran krisis global. Kabar terbaru justru datang dengan nada mencengangkan: Iran memberi sinyal positif bagi kapal RI untuk melintas di Selat Hormuz—jalur vital yang sebelumnya nyaris lumpuh total akibat perang.

Pemerintah Iran dikabarkan membuka peluang bagi dua kapal tanker Indonesia, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, untuk melintasi Selat Hormuz. Keputusan ini muncul di tengah situasi perang yang masih berkecamuk antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel, yang menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu titik paling berbahaya di dunia saat ini.

PT Pertamina International Shipping (PIS) pun langsung bergerak cepat. Perusahaan pelayaran energi milik negara itu kini tengah menyiapkan berbagai aspek teknis agar kedua kapal bisa melintas dengan aman. Hingga saat ini, kedua kapal tersebut masih tertahan di kawasan Teluk Arab atau Teluk Persia, menunggu kepastian jalur aman.

Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menegaskan bahwa koordinasi intensif terus dilakukan dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia demi memastikan keselamatan pelayaran di wilayah konflik tersebut. Ia juga memastikan bahwa seluruh kru kapal dalam kondisi aman di tengah ketegangan yang terus meningkat.

"PIS bersama dengan Kemlu tengah membahas teknis agar kedua kapal yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman," ujar Vega dalam keterangannya kepada detikcom, Minggu (29/3).

Lebih lanjut, Vega mengungkapkan bahwa sejak awal krisis mencuat, pihaknya tidak tinggal diam. Diplomasi menjadi kunci utama dalam membuka jalan bagi kapal Indonesia di tengah blokade tidak resmi yang terjadi di Selat Hormuz.

"Sejak isu ini muncul, PIS telah melakukan koordinasi intensif dengan pihak Kemlu, yang secara aktif menjalin komunikasi diplomatik dengan otoritas terkait. Hingga saat ini, upaya diplomasi tersebut terus berjalan," tutur Vega.

Situasi ini membuat keselamatan awak kapal menjadi prioritas mutlak. Pertamina juga meminta dukungan dan doa dari masyarakat Indonesia agar proses pelintasan dapat berjalan lancar tanpa hambatan di wilayah yang masih diliputi ketegangan militer.

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri RI juga telah mengonfirmasi adanya perkembangan positif dari pihak Iran. Melalui jalur diplomasi yang melibatkan berbagai pihak, termasuk Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tehran, sinyal hijau mulai terlihat.

"Dapat kami sampaikan bahwa berdasarkan koordinasi Kemlu dan KBRI Tehran dengan pihak Pertamina, Kedubes Iran di Jakarta dan pihak-pihak Iran terkait di Tehran, Kedubes Iran telah sampaikan pertimbangan positif Pemerintah Iran atas keamanan perlintasan kapal milik Pertamina Group di Selat Hormuz," kata jubir Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, dalam keterangannya, Sabtu (28/3).

Ia menegaskan bahwa koordinasi lintas negara akan terus dilakukan demi memastikan kapal-kapal Indonesia bisa melintas dengan aman di jalur strategis tersebut.

Konflik yang meletus sejak 28 Februari lalu, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan awal terhadap Iran, telah mengubah Selat Hormuz menjadi zona merah. Iran pun merespons dengan menutup hampir seluruh akses di selat tersebut, membuat ratusan kapal tanker dunia terjebak, termasuk kapal milik Indonesia.

Dampaknya tidak main-main. Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia kini terguncang, memicu ketidakpastian pasar energi global dan meningkatkan risiko krisis pasokan.

Kini, semua mata tertuju pada langkah berikutnya: apakah kapal Indonesia benar-benar bisa lolos dari jerat konflik global ini, atau justru kembali terhambat oleh dinamika geopolitik yang kian memanas?

Previous Post Next Post

نموذج الاتصال