Oleh: Netizen Indonesia
Dunia komunikasi politik mengenal istilah diversionary communication. Sebuah teknik tua namun tetap ampuh: lempar sebuah kegaduhan konyol ke tengah publik, biarkan rakyat saling cakar di media sosial, sementara akar persoalan yang sesungguhnya terkubur di bawah tumpukan meme dan hujatan.
Pekan ini, panggung sandiwara itu dimainkan dengan sempurna oleh Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia. Dalam sebuah pernyataan yang memicu dahi berkerut, ia meminta masyarakat menghemat LPG dengan cara yang sangat "revolusioner": mematikan kompor segera setelah masakan matang. [1] [2]
Sekilas, ini terdengar seperti nasihat bijak dari paman di grup WhatsApp keluarga. Namun, jika keluar dari mulut seorang regulator energi di tengah ancaman krisis, pernyataan ini bukan sekadar konyol. Ini adalah bentuk pengalihan isu agar masyarakat tetap jauh dari substansi masalah: kerentanan energi nasional yang akut.
Ironi Negeri di Atas Gas
Mari kita bicara angka, bukan sekadar retorika dapur. Berdasarkan data terbaru, cadangan gas alam kita mencapai 55,85 Trillion Cubic Feet (TCF). [3] Angka yang sangat impresif untuk sebuah negara yang rakyatnya diminta "irit-iritan" pakai kompor.
Namun, di sinilah letak anomali yang membuat akal sehat kita terpelanting. Dari total kekayaan gas yang melimpah itu, kemampuan produksi LPG domestik kita hanya mampu memenuhi sekitar 24 persen dari total kebutuhan nasional. [4] Padahal, kuota konsumsi LPG subsidi tahun ini telah dipatok sebesar 8,5 juta Metrik Ton (MT). [5]
Ada jurang lebar sebesar kurang lebih 6,4 juta Metrik Ton yang harus ditambal. Bagaimana caranya? Tentu saja dengan impor. Ketergantungan kita terhadap impor LPG telah mencapai angka fatal: 76 persen. [4] Kita adalah raksasa gas yang sedang mengemis energi dari luar negeri.
Jeratan Mafia dan Dalih "C3-C4"
Pemerintah punya jawaban sakti yang selalu diputar ulang seperti kaset rusak: "Kita lemah dalam infrastruktur pemisahan Propane (C3) dan Butane (C4)." [6] Alasan teknis ini seolah menjadi pembenaran abadi atas ketidakmampuan—atau ketidakinginan—kita membangun kilang.
Argumen ini masuk akal secara teknis, tapi apakah cukup kuat secara politis? Tentu tidak. Solusinya sederhana: bangun kilang baru atau tingkatkan kapasitas (upgrade) kilang yang ada. Namun, selama bertahun-tahun, opsi ini seperti sengaja dipinggirkan. Mengapa? Karena kedaulatan energi adalah musuh utama bagi para pemburu rente impor.
Ekspor Gas Murah, Impor LPG Mahal
Tragedi yang sesungguhnya adalah pola perdagangan energi kita yang menyerupai "komedi putar". Kita mengekspor gas alam mentah (lean gas) ke pasar global demi devisa, lalu kita membeli kembali LPG dengan harga internasional yang memiskinkan APBN. [7]
Data menunjukkan bahwa serapan gas domestik seringkali kalah bersaing dengan syahwat ekspor. Gas kita diolah di luar negeri, lalu dipaketkan kembali ke tanah air dengan harga yang sudah dipoles margin keuntungan para tengkulak global. Inilah yang membuat beban subsidi terus membengkak, yang untuk tahun 2026 saja usulan kuotanya mencapai 8,31 juta Metrik Ton. [8]
Menanti Keberanian Prabowo
Di satu sisi, penghematan memang perlu sebagai budaya. Namun di sisi lain, menjadikan penghematan rakyat sebagai solusi utama atas kegagalan sistemik produksi adalah bentuk cuci tangan pemerintah.
Sampai di era Presiden Prabowo Subianto ini, publik menanti kesungguhan nyata untuk memutus rantai ketergantungan impor ini. Jika menteri sekelas Bahlil hanya mampu memberikan solusi setingkat tips memasak, maka wajar jika publik curiga: apakah pemerintah memang sengaja memelihara kelemahan ini demi memberi ruang bagi kartel untuk tetap "panen"?
Rakyat tidak butuh diajari cara memakai kompor. Rakyat butuh kepastian bahwa kekayaan gas alam di perut bumi pertiwi tidak dikonversi menjadi keuntungan pribadi bagi segelintir oligarki. Pak Menteri, berhentilah melawak. Masalah LPG ini sudah sangat "matang", jangan sampai rakyat yang justru "mematikan kompor" kepercayaan kepada pemerintah karena sudah lelah dengan sandiwara ini.
Referensi Link:
[1] Instagram- Bahlil Ajak Warga Hemat Gas Matikan Kompor Bila Masakan Matang
[2] DetikUpdate - Video Bahlil Ajakan Hemat Gas
[3] CNN Indonesia - Cadangan Gas RI Capai 55,85 TCF Per Januari 2025
[4] CNN Indonesia - Bahlil Sebut Impor LPG 76 Persen Karena Produksi Hanya 24 Persen
[5] Kontan - Presiden Prabowo Restui Kuota LPG 8,5 Juta Ton
[6] Kabar Bursa - Bahlil Akui Kendala Infrastruktur Fraksi C3 dan C4
[7] Reforminer Institute - Ironi Ekspor Gas dan Impor LPG Indonesia
[8] CNBC Indonesia - Usulan Kuota LPG 2026 Sebesar 8,31 Juta Metrik Ton
[2] DetikUpdate - Video Bahlil Ajakan Hemat Gas
[3] CNN Indonesia - Cadangan Gas RI Capai 55,85 TCF Per Januari 2025
[4] CNN Indonesia - Bahlil Sebut Impor LPG 76 Persen Karena Produksi Hanya 24 Persen
[5] Kontan - Presiden Prabowo Restui Kuota LPG 8,5 Juta Ton
[6] Kabar Bursa - Bahlil Akui Kendala Infrastruktur Fraksi C3 dan C4
[7] Reforminer Institute - Ironi Ekspor Gas dan Impor LPG Indonesia
[8] CNBC Indonesia - Usulan Kuota LPG 2026 Sebesar 8,31 Juta Metrik Ton
Tags
APBN
Bahlil Lahadalia
Gas Alam Indonesia
Impor LPG
Kebijakan Energi
Kedaulatan Energi
Mafia Migas
Menteri ESDM
Opini
Prabowo Subianto
Subsidi LPG 3 Kg
.png)